Agar Tak Jadi Korban Penipuan
9 Februari 2010- RIAU POS
PEKANBARU (RP) - Kasus penipuan yang dialami oleh 1.830 orang guru di Provinsi Riau saat mengurus kenaikan pangkat, menjadi ladang keprihatinan dewasa ini.
Salah satu titik lemahnya adalah, banyak di antara tenaga pendidik tersebut yang masih belum menguasai teknis penulisan karya ilmiah.
Untuk mencegah terulangnya kembali kasus yang mencoreng dunia pendidikan di Provinsi Riau ini, Riau Pos bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Riau dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), melaksanakan studium general dan workshop nasional penulisan karya ilmiah guru.
Dijelaskan Manajer Pemasaran yang juga Wakil Direktur Riau Pos Zulmansyah Sekedang, dalam pelatihan itu akan dikupas berbagai sisi, mulai dari prosedur, proses dan proses pengajuan kenaikan pangkat guru serta bagaimana pula caranya guru bisa menulis dengan mudah dan gampang berkas penelitian yang menjadi salah satu syarat untuk mengajukan kenaikan pangkat.
‘’Ya, di sini semuanya akan dikupas, pada intinya adalah bagaimana supaya guru mengerti bagaimana prosedur dan bagaimana teknis membuat karya ilmiah untuk kenaikan pangkat itu. Selama ini dianggap sulit, mudah-mudahan dengan pelatihan ini menjadi lebih gampang,’’ sebut Zulmansyah.
Dalam kegiatan yang akan dilaksanakan di Hotel Ratu Mayang, Ahad, 21 Februari 2010 tersebut, akan hadir sebagai pembicara Kadis Pendidikan Provinsi Riau Prof Dr H Irwan Effendi MSi, Ketua PGRI Prof Dr H Isjoni MSi serta Kepala Kantor Regional XII Badan Kepegawaian Nasional (BKN) Provinsi Riau-Kepri-Sumbar Drs H Dede Djunaedy MSi.
‘’Sudah banyak peserta mendaftar, mari, bagi guru-guru yang masih ragu dan butuh banyak masukan tentang kendala penulisan karya ilmiah guru ini untuk ikut serta. Kita akan arahkan bagaimana semudah mungkin guru memahamisubstansi dari kegiatan ini,’’ sebut dia tentang kegiatan yang untuk pendaftarannya hanya butuh biaya Rp250.000, sudah termasuk untuk seluruh akomodasi serta sertifikat. Bagi guru yang mendaftar dibawah tanggal 15 Februari, juga diberikan diskon khusus 20 persen.
Bagi yang berminat, bisa menghubungi panitia di tempat pendaftaran di Kantor Harian Riau Pos Jalan HR Soebrantas Km 10,5Panam Pekanbaru, atau menghubungi telpon (0761) 64637.(eko/izl)
Rabu, 17 Februari 2010
Karya Ilmiah Jadi Syarat Kenaikan Golongan Guru di Riau
(Kamis, 04 Februari 2010 Media Indonesia)
PEKANBARU--MI: Mulai tahun ini Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau mewajibkan seluruh guru golongan III membuat karya ilmiah sebagai syarat untuk kenaikan pangkat.
Disdik kini telah menyiapkan sejumlah jurnal sebagai wadah bagi para guru memublikasikan hasil tulisan karya ilmiah mereka.
"Kami sadar, sebagian besar guru di Riau belum bisa menulis karya ilmiah. Tapi itu bukan persoalan, karena kami akan mengadakan pelatihan penulisan karya ilmiah untuk para guru tersebut di seluruh Riau," kata Kepala Disdik Riau Irwan Efendi.
Jurnal tersebut di antaranya jurnal bahasa, pendidikan IPA, IPS, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan informal. Selain jurnal, pihaknya juga menyiapkan wadah lain berupa warta pendidikan.
"Sejumlah jurnal dan warta pendidikan ini akan kami terbitkan. Kami ingin para guru di sini benar-benar berkualitas. Untuk itu kami upayakan hal tersebut bisa terwujud," kata Irwan.
Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian pada Diknas Provinsi Riau Nurliyah mengatakan setiap karya ilmiah yang dihasilkan akan menambah enam poin angka kredit setiap guru. Penulisan karya ilmiah itu memang angka kredit paling tinggi jika dibandingkan dengan sejumlah aktifitas lain para guru.
"Mengajar, ikut pelatihan, seminar dan workshop dan lainnya juga menjadi kredit poin bagi guru untuk naik golongan. Namun angka kreditnya kecil. Penulisan karya ilmiah ini kredit poin paling tinggi dan wajib bagi guru untuk melakukan hal tersebut," jelasnya.
Guru yang ingin naik golongan III A menjadi III B harus mengumpulkan 150 angka kredit. Naik menjadi golongan III C 200 angka kredit, III D 300, dan IV A 400 angka kredit. (Bagus Himawan/MI)
PEKANBARU--MI: Mulai tahun ini Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau mewajibkan seluruh guru golongan III membuat karya ilmiah sebagai syarat untuk kenaikan pangkat.
Disdik kini telah menyiapkan sejumlah jurnal sebagai wadah bagi para guru memublikasikan hasil tulisan karya ilmiah mereka.
"Kami sadar, sebagian besar guru di Riau belum bisa menulis karya ilmiah. Tapi itu bukan persoalan, karena kami akan mengadakan pelatihan penulisan karya ilmiah untuk para guru tersebut di seluruh Riau," kata Kepala Disdik Riau Irwan Efendi.
Jurnal tersebut di antaranya jurnal bahasa, pendidikan IPA, IPS, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan informal. Selain jurnal, pihaknya juga menyiapkan wadah lain berupa warta pendidikan.
"Sejumlah jurnal dan warta pendidikan ini akan kami terbitkan. Kami ingin para guru di sini benar-benar berkualitas. Untuk itu kami upayakan hal tersebut bisa terwujud," kata Irwan.
Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian pada Diknas Provinsi Riau Nurliyah mengatakan setiap karya ilmiah yang dihasilkan akan menambah enam poin angka kredit setiap guru. Penulisan karya ilmiah itu memang angka kredit paling tinggi jika dibandingkan dengan sejumlah aktifitas lain para guru.
"Mengajar, ikut pelatihan, seminar dan workshop dan lainnya juga menjadi kredit poin bagi guru untuk naik golongan. Namun angka kreditnya kecil. Penulisan karya ilmiah ini kredit poin paling tinggi dan wajib bagi guru untuk melakukan hal tersebut," jelasnya.
Guru yang ingin naik golongan III A menjadi III B harus mengumpulkan 150 angka kredit. Naik menjadi golongan III C 200 angka kredit, III D 300, dan IV A 400 angka kredit. (Bagus Himawan/MI)
PANDUAN MENULIS (1)
Majalah Teachers Guide
PANDUAN MENULIS (1) - materi workshop menulis & literasi untuk Guru oleh Majalah Teachers Guide
1. RAGAM TULISAN
• News : oleh wartawan, pemerhati
• Berita Singkat : dokumentasi
• Profil (singkat, panjang) tentang orang atau institusi
• Opini/Esai/Kolom/Resensi : oleh kritikus, pemerhati
• Features : tulisan yang awet (ever green)
2. PRAKTIS MENULIS
Tidak perlu bakat kepengarangan untuk bisa menulis. Menulis yang kita maksud di sini adalh menulis non-fiksi, yaitu menguraikan ide-pikiran tentang sesuatu yang kita pahami, yang bermanfaat bagi orang lain.
Kita sering terjebak bahwa tulisan bagus adalah tulisan yang mendayu-dayu. Keliru! Tulisan yang bagus itu adalah lantaran idenya yang mengandung kebaruan, istimewa, mengejutkan, berpengaruh besar, menggugah, mencerahkan, dan orisinal. Temukan ide bagus, dan Anda sudah setengah penulis. Selebihnya tinggal soal teknis.
Yang terpenting saat menguraikan pikiran itu kita harus (1) fokus pada satu hal, (2) jelas tidak ruwet ke sana ke mari, dan (3) jernih (tidak mengandung tafsiran lain.
3. LANGKAH PRAKTIS MENULIS
• Temukan ide
• Buat sinopsis (satu paragraf singkat)
• Mengembangkan ide
* Rancang susunan tulisan : Lead, Batang Tubuh, Penutup
• Lengkapi dengan 5w + 1H (What, Who, When, Where, Why, How
• Berikan contoh atau analogi sebagai pembanding
• Cantumkan deskripsi peristiwa
• Perkaya dengan pendapat tokoh
• Bandingkan dengan pemikiran terdahulu
• Berikan konteks, kenapa ide ini penting ditulis sekarang
• Menulislah seolah Anda sedang bertukar fikiran atau berbincang dengan teman sejawat
4. MULAI MENULIS
Feature ditulis dengan teknik lead (pembuka), tubuh dan ending (penutup).
Penutup sebuah feature hampir sama pentingnya dengan lead
A. LEAD (Pembuka). Gaya apa saja boleh, disesuaikan dengan bahan tulisan dan angle. Boleh memakai kesimpulan, sindiran atau celetukan penggoda, atau kalimat penyemangat untuk menggoda pembaca masuk.
LEAD RINGKASAN. Banyak yang menggunakan, sebab mudah membuatnya.
Misal:
Menemukan guru hebat - a great teacher- dan dengannya para guru biasa dapat belajar dan terinspirasi menjadi guru hebat pula. Begitulah antara lain visi KLUB GURU di Jawa Timur.
(Pembaca bisa menebak, bahwa yang mau ditulis adalah tentang pendirian KLUB GURU, berikut pemikiran yang melatarbelakanginya. Yang berminat bisa meneruskan membaca, sementara yang tidak melewatkannya).
LEAD BERCERITA : Menghadirkan suasana
Misal:
Agustus tahun lalu, saya diberi waktu satu minggu mempersiapkan fortofolio. Maka dimulailah perjalanan menyusuri setumpuk data. (Pembaca jadi ingin tahu apa saja kesulitan yang dihadapi seterusnya dan bagaimana kiat mengatasinya.
LEAD KUTIPAN: Kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise seperti ucapan pejabat.
Misal:
”Kasihan ya Pak!” Kalimat empatik itu meluncur dari banyak siswa kelas IV, sesaat setelah tanya jawab dengan seorang bapak penarik becak yang dihadirkan sebagai guru tamu pelajaran Bahasa Indonesia. (Yang mau ditulis adalah metode menghadirkan realitas sosial di dalam ruangan kelas).
LEAD PERTANYAAN: Menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea kalimat, dan berikutnya sudah alinea baru.
Misal:
Apa yang terjadi jika intelegensi, kreatifitas, dan ahlak seorang anak dapat dileburkan menjadi satu kekuatan? Para juara! (Pembaca kemudian disuguhi feature soal bagaimana SMA Plus Mutahhari di Bandung berhasil mengembangkan para siswanya menjadi siswa juara).
LEAD MENUDING: Upaya berkomunikasi langsung dengan pembaca, dan ciri-cirinya adalah kata ’Anda’ atau ’Saudara’ . Pembaca sengaja dibawa jadi bagian cerita, walau tak terlibat pada persoalan.
Misal:
Ketika mendengar kata hypnosis, mungkin yang terbayang oleh Anda adalah berbagai asumsi negatif, seperti sihir, magic, gendam, mistik, mantra, atau ilmu untuk mempengaruhi orang lain, ilmu setan/jin, dan masih banyak lagi pandangan negatif. (Pembaca masih penasaran kayakinannya tentang sesuatu digugat oleh penulis, dan ingin tahun. Ternyata yang disoroti manfaat hypnosis dan guru yang belajar hypnosis).
LEAD PENGGODA : Sekadar menggoda, dengan sedikit bergurau, untuk menggaet pembaca agar secara tidak sadar terjebak ke baris tulisan berikutnya. Cerita apa yang disuguhkan masih teka-teki.
Misal:
Banyak sudah kisah sekolah, bermula dari garasi rumah kini menjadi sekolah megah. Namun tak kurang juga cerita, awalnya sekolah mewah kini gurunya tinggal setengah. (Nah, sampai di sini pembaca masih sulit menebak, tulisan apa ini?).
Alinea berikutnya:
Sekolah bisa jadi tak ubahnya korporasi atau industri lain. Namun sekolah lebih rumit. Lebih kompleks. (Pembaca mulai menebak-nebak ini pasti feature yang bercerita tentang manajemen sekolah. Tetapi, apa isi feature itu , apakah kasus keuangannya, guru, atau biaya-biaya, masih teka-teki dan itu dijabarkan pada alinea berikutnya).
LEAD NYENTRIK: Lead ini nyentrik ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyampaiannya.
Misal:
Reformasi pendidikan. Semua pejabat korup mundur. UN batalkan. Tegakkan hukum. Hapus KKN. Teriakan itu bersahut-sahutan dari sejumlah guru yang beraksi di muka kantor DPRD Jawa Barat menyampaikan aspirasi rakyat. .. dst.... (Pembaca digiring ke persoalan tuntutan reformasi yang disampaikan Guru.
LEAD GABUNGAN: Gabungan dari beberapa jenis lead tadi.
Misal:
Air mukanya terlihat muram. Tak ada ekspresi awalnya. Namun saat dikejar, apa yang mendorongnya menekuni pekerjaan sebagai Guru, tampak kejujuran yang patut diapresiasi. Owi, panggilannya, menjadi Guru di Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Siberah, lima jam perjalanan dari Pulau Seribu dengan perahu etek-etek. “Jadi Guru panggilan jiwa saya, setelah tahu kebutuhan pendidikan bagi anak-anak pulau Siberah,” jelas Owi. Selepas SMA di daerah Ciputat, Jakarta, Owi menerima ajakan temannya menjajal mengajar .... ( Ini gabungan lead deskriptif, dan kutipan. Mau coba gabungan lain?)
B. BATANG TUBUH
• Yang pertama diperhatikan adalah fokus cerita jangan sampai menyimpang.
• Buatlah kronologis, berurutan dengan kalimat sederhana dan pendek-pendek .
• Deskripsi, baik untuk suasana maupun orang (profil), mutlak untuk pemanis sebuah feature.
• Data yang menjelaskan sesuatu hal, harus disebar dan dijelaskan satu persatu kaitan sebab-akibatnya.
• Anekdot perlu, tapi jangan mengada-ada. Kutipan penting, agar pembaca tidak jenuh dengan reportase.
C. ENDING (penutup) •
PENUTUP RINGKASAN. Sifatnya merangkum kembali cerita-cerita yang lepas untuk mengacu kembali ke intro awal atau lead
• PENUTUP PENYENGAT. Buat pembaca kaget, tergugah atau tersentuh. Seperti pada film Hollywood, penjahat yang dipenjarakan ternyata esok harinya sudah kabur kembali.
• PENUTUP KLIMAKS. Jika susunan ide sudah kronologis, penyelesaian akhirnya mencapai klimaks.
• PENUTUP BERGAYA PAMIT. Mengguakan kata-kata bermakna perpisahan, pamit, mohon maaf, mendoakan.
• PENUTUP TANPA PENYELESAIAN. Akhir yang mengambang, pembaca menyimpulkan sendiri.
5. TIPS MUDAH MENJADI PENULIS
• Bangun motivasi kuat menulis untuk mendongkrak karier, jangan enggan atau putus asa menulis.
• Rajin membaca untuk mengembangkan wawasan, ide, dan daya analisis.
• Rajin berlatih menulis. Menulis bebas tema apa saja, termasuk uneg-uneg Anda. Dari ‘free writing ini, bisa berkembang menjadi artikel-artikel khusus.
• Berlatih menyusun outline, garis besar alur tulisan mulai dari intro, indentifikasi masalah, isi atau bahasan, hingga penutup.
• Jangan malas rewriting, menulis ulang draft tulisan pertama. Lakukan revisi di sana-sini, editing, dan terapkan kalimat efektif.
• Jangan malas menulis. Menulis adalah sarana efektif memunculkan percaya diri.
• Menulis itu untuk orang lain, kalau untuk diri sendiri tidak perlu belajar.
• Menulis itu kreatif., dan kreatifitas itu empatik. Empati dan kepedulian melahirkan berbagai ide cemerlang dalam perubahan.
• Menulis itu berfikir. Karena bahasa itu soal logika, yang berbahasa kacau biasanya menulisnya pun kacau. Tak ada orang yang bisa menulis tanpa membaca. (Teachers Guide)
PANDUAN MENULIS (1) - materi workshop menulis & literasi untuk Guru oleh Majalah Teachers Guide
1. RAGAM TULISAN
• News : oleh wartawan, pemerhati
• Berita Singkat : dokumentasi
• Profil (singkat, panjang) tentang orang atau institusi
• Opini/Esai/Kolom/Resensi : oleh kritikus, pemerhati
• Features : tulisan yang awet (ever green)
2. PRAKTIS MENULIS
Tidak perlu bakat kepengarangan untuk bisa menulis. Menulis yang kita maksud di sini adalh menulis non-fiksi, yaitu menguraikan ide-pikiran tentang sesuatu yang kita pahami, yang bermanfaat bagi orang lain.
Kita sering terjebak bahwa tulisan bagus adalah tulisan yang mendayu-dayu. Keliru! Tulisan yang bagus itu adalah lantaran idenya yang mengandung kebaruan, istimewa, mengejutkan, berpengaruh besar, menggugah, mencerahkan, dan orisinal. Temukan ide bagus, dan Anda sudah setengah penulis. Selebihnya tinggal soal teknis.
Yang terpenting saat menguraikan pikiran itu kita harus (1) fokus pada satu hal, (2) jelas tidak ruwet ke sana ke mari, dan (3) jernih (tidak mengandung tafsiran lain.
3. LANGKAH PRAKTIS MENULIS
• Temukan ide
• Buat sinopsis (satu paragraf singkat)
• Mengembangkan ide
* Rancang susunan tulisan : Lead, Batang Tubuh, Penutup
• Lengkapi dengan 5w + 1H (What, Who, When, Where, Why, How
• Berikan contoh atau analogi sebagai pembanding
• Cantumkan deskripsi peristiwa
• Perkaya dengan pendapat tokoh
• Bandingkan dengan pemikiran terdahulu
• Berikan konteks, kenapa ide ini penting ditulis sekarang
• Menulislah seolah Anda sedang bertukar fikiran atau berbincang dengan teman sejawat
4. MULAI MENULIS
Feature ditulis dengan teknik lead (pembuka), tubuh dan ending (penutup).
Penutup sebuah feature hampir sama pentingnya dengan lead
A. LEAD (Pembuka). Gaya apa saja boleh, disesuaikan dengan bahan tulisan dan angle. Boleh memakai kesimpulan, sindiran atau celetukan penggoda, atau kalimat penyemangat untuk menggoda pembaca masuk.
LEAD RINGKASAN. Banyak yang menggunakan, sebab mudah membuatnya.
Misal:
Menemukan guru hebat - a great teacher- dan dengannya para guru biasa dapat belajar dan terinspirasi menjadi guru hebat pula. Begitulah antara lain visi KLUB GURU di Jawa Timur.
(Pembaca bisa menebak, bahwa yang mau ditulis adalah tentang pendirian KLUB GURU, berikut pemikiran yang melatarbelakanginya. Yang berminat bisa meneruskan membaca, sementara yang tidak melewatkannya).
LEAD BERCERITA : Menghadirkan suasana
Misal:
Agustus tahun lalu, saya diberi waktu satu minggu mempersiapkan fortofolio. Maka dimulailah perjalanan menyusuri setumpuk data. (Pembaca jadi ingin tahu apa saja kesulitan yang dihadapi seterusnya dan bagaimana kiat mengatasinya.
LEAD KUTIPAN: Kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise seperti ucapan pejabat.
Misal:
”Kasihan ya Pak!” Kalimat empatik itu meluncur dari banyak siswa kelas IV, sesaat setelah tanya jawab dengan seorang bapak penarik becak yang dihadirkan sebagai guru tamu pelajaran Bahasa Indonesia. (Yang mau ditulis adalah metode menghadirkan realitas sosial di dalam ruangan kelas).
LEAD PERTANYAAN: Menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea kalimat, dan berikutnya sudah alinea baru.
Misal:
Apa yang terjadi jika intelegensi, kreatifitas, dan ahlak seorang anak dapat dileburkan menjadi satu kekuatan? Para juara! (Pembaca kemudian disuguhi feature soal bagaimana SMA Plus Mutahhari di Bandung berhasil mengembangkan para siswanya menjadi siswa juara).
LEAD MENUDING: Upaya berkomunikasi langsung dengan pembaca, dan ciri-cirinya adalah kata ’Anda’ atau ’Saudara’ . Pembaca sengaja dibawa jadi bagian cerita, walau tak terlibat pada persoalan.
Misal:
Ketika mendengar kata hypnosis, mungkin yang terbayang oleh Anda adalah berbagai asumsi negatif, seperti sihir, magic, gendam, mistik, mantra, atau ilmu untuk mempengaruhi orang lain, ilmu setan/jin, dan masih banyak lagi pandangan negatif. (Pembaca masih penasaran kayakinannya tentang sesuatu digugat oleh penulis, dan ingin tahun. Ternyata yang disoroti manfaat hypnosis dan guru yang belajar hypnosis).
LEAD PENGGODA : Sekadar menggoda, dengan sedikit bergurau, untuk menggaet pembaca agar secara tidak sadar terjebak ke baris tulisan berikutnya. Cerita apa yang disuguhkan masih teka-teki.
Misal:
Banyak sudah kisah sekolah, bermula dari garasi rumah kini menjadi sekolah megah. Namun tak kurang juga cerita, awalnya sekolah mewah kini gurunya tinggal setengah. (Nah, sampai di sini pembaca masih sulit menebak, tulisan apa ini?).
Alinea berikutnya:
Sekolah bisa jadi tak ubahnya korporasi atau industri lain. Namun sekolah lebih rumit. Lebih kompleks. (Pembaca mulai menebak-nebak ini pasti feature yang bercerita tentang manajemen sekolah. Tetapi, apa isi feature itu , apakah kasus keuangannya, guru, atau biaya-biaya, masih teka-teki dan itu dijabarkan pada alinea berikutnya).
LEAD NYENTRIK: Lead ini nyentrik ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyampaiannya.
Misal:
Reformasi pendidikan. Semua pejabat korup mundur. UN batalkan. Tegakkan hukum. Hapus KKN. Teriakan itu bersahut-sahutan dari sejumlah guru yang beraksi di muka kantor DPRD Jawa Barat menyampaikan aspirasi rakyat. .. dst.... (Pembaca digiring ke persoalan tuntutan reformasi yang disampaikan Guru.
LEAD GABUNGAN: Gabungan dari beberapa jenis lead tadi.
Misal:
Air mukanya terlihat muram. Tak ada ekspresi awalnya. Namun saat dikejar, apa yang mendorongnya menekuni pekerjaan sebagai Guru, tampak kejujuran yang patut diapresiasi. Owi, panggilannya, menjadi Guru di Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Siberah, lima jam perjalanan dari Pulau Seribu dengan perahu etek-etek. “Jadi Guru panggilan jiwa saya, setelah tahu kebutuhan pendidikan bagi anak-anak pulau Siberah,” jelas Owi. Selepas SMA di daerah Ciputat, Jakarta, Owi menerima ajakan temannya menjajal mengajar .... ( Ini gabungan lead deskriptif, dan kutipan. Mau coba gabungan lain?)
B. BATANG TUBUH
• Yang pertama diperhatikan adalah fokus cerita jangan sampai menyimpang.
• Buatlah kronologis, berurutan dengan kalimat sederhana dan pendek-pendek .
• Deskripsi, baik untuk suasana maupun orang (profil), mutlak untuk pemanis sebuah feature.
• Data yang menjelaskan sesuatu hal, harus disebar dan dijelaskan satu persatu kaitan sebab-akibatnya.
• Anekdot perlu, tapi jangan mengada-ada. Kutipan penting, agar pembaca tidak jenuh dengan reportase.
C. ENDING (penutup) •
PENUTUP RINGKASAN. Sifatnya merangkum kembali cerita-cerita yang lepas untuk mengacu kembali ke intro awal atau lead
• PENUTUP PENYENGAT. Buat pembaca kaget, tergugah atau tersentuh. Seperti pada film Hollywood, penjahat yang dipenjarakan ternyata esok harinya sudah kabur kembali.
• PENUTUP KLIMAKS. Jika susunan ide sudah kronologis, penyelesaian akhirnya mencapai klimaks.
• PENUTUP BERGAYA PAMIT. Mengguakan kata-kata bermakna perpisahan, pamit, mohon maaf, mendoakan.
• PENUTUP TANPA PENYELESAIAN. Akhir yang mengambang, pembaca menyimpulkan sendiri.
5. TIPS MUDAH MENJADI PENULIS
• Bangun motivasi kuat menulis untuk mendongkrak karier, jangan enggan atau putus asa menulis.
• Rajin membaca untuk mengembangkan wawasan, ide, dan daya analisis.
• Rajin berlatih menulis. Menulis bebas tema apa saja, termasuk uneg-uneg Anda. Dari ‘free writing ini, bisa berkembang menjadi artikel-artikel khusus.
• Berlatih menyusun outline, garis besar alur tulisan mulai dari intro, indentifikasi masalah, isi atau bahasan, hingga penutup.
• Jangan malas rewriting, menulis ulang draft tulisan pertama. Lakukan revisi di sana-sini, editing, dan terapkan kalimat efektif.
• Jangan malas menulis. Menulis adalah sarana efektif memunculkan percaya diri.
• Menulis itu untuk orang lain, kalau untuk diri sendiri tidak perlu belajar.
• Menulis itu kreatif., dan kreatifitas itu empatik. Empati dan kepedulian melahirkan berbagai ide cemerlang dalam perubahan.
• Menulis itu berfikir. Karena bahasa itu soal logika, yang berbahasa kacau biasanya menulisnya pun kacau. Tak ada orang yang bisa menulis tanpa membaca. (Teachers Guide)
Menjadi Guru yang Gemar Menulis
Alangkah indahnya jika sekolah-sekolah dasar hingga menengah di Indonesia memiliki tradisi ilmiah kepengetahuan, di mana anak-anak tumbuh dan belajar dengan semangat rasa ingin tahu yang tinggi, cinta ilmu, peduli lingkungan sekitar, serta berprestasi akademik tinggi.
Suasana keilmuan ini yang kurang mencuat di kebanyakan sekolah kita saat ini, lantaran selama ini terbebani sisi akademik (pencapaian hafalan informasi) dan kurang di segi-segi proses. Karena itu, guru dan sekolah, serta budaya dan lingkungan belajar di kebanyakan sekolah di Indonesia tampaknya perlu disegarkan lagi.
Sekolah sebaiknya menyeimbangkan sisi pencapaian skor akademik (angka raport) dengan sisi tumbuhnya kecintaan belajar. Sekolah menjadi rumah kedua bagi anak, yang ramah bagi anak mengekplorasi rasa ingint tahu, bukan setumpuk pekerjaan rumah dan tugas yang tak semua siswa mampu mencapai dan menikmatinya.
Situasi ini dapat dipersegar, antara lain dengan mengembangkan budaya literasi di sekolah, yaitu kebiasaan berbicara, membaca, dan menulis, baik di siswa maupun guru/pengelola sekolah. Anak-anak dan guru perlu lebih sering berbicara, membaca, dan menulis. Perpustakaan atau sentra pojok baca di kelas atau halaman taman sekolah, menjadi sarana penting.
Budaya literasi akan menghidupkan sisi imajinatif dan kreatifitas warga sekolah. Menumbuhkan budaya ilmiah di sekolah, yaitu tumbuhnya rasa ingin tahu yang besar, minat mendalami sesuatu, tumbuh sikap demokratis dalam proses belajar-mengajar, yang terpuaskan melalui membaca-menulis. Guru-guru perlu lebih sering membaca dan menulis pikiran-pikirannya. Dengan menulis akan tumbuh kepekaan, kepedulian, rasa sayang, kecintaan, semangat untuk maju, kecerdasan logik, serta akhirnya tujuan hidup yang lebih terarah.
Bagi guru, ketrampilan menulis akan menunjang pengembangan profesionalisme. Bagi siswa, akan lebih mudah menggali kompetensi diri dan mengembangkan peta karir masa depannya. Kecerdasan majemuk siswa pun lebih terakomodasi oleh sekolah. Inilah generasi muda bangsa yang lebih siap menyongsong globalisasi.
Kami meyakini, menghidupkan budaya dan kecerdasan literasi merupakan kebutuhan sekolah-sekolah Indonesia di masa depan. Guru yang cerdas literasi, dan gemar menulis, dia lah yang akan membangun budaya keilmuan di sekolah. Untuk itu, majalah Teachers Guide ingin ikut berkontribusi dalam membangun kebiasaan membaca-menulis ini bagi para Guru melalui workshop literasi-menulis. (Teachers Guide: Pengantar Workshop Literasi untuk Guru)
Suasana keilmuan ini yang kurang mencuat di kebanyakan sekolah kita saat ini, lantaran selama ini terbebani sisi akademik (pencapaian hafalan informasi) dan kurang di segi-segi proses. Karena itu, guru dan sekolah, serta budaya dan lingkungan belajar di kebanyakan sekolah di Indonesia tampaknya perlu disegarkan lagi.
Sekolah sebaiknya menyeimbangkan sisi pencapaian skor akademik (angka raport) dengan sisi tumbuhnya kecintaan belajar. Sekolah menjadi rumah kedua bagi anak, yang ramah bagi anak mengekplorasi rasa ingint tahu, bukan setumpuk pekerjaan rumah dan tugas yang tak semua siswa mampu mencapai dan menikmatinya.
Situasi ini dapat dipersegar, antara lain dengan mengembangkan budaya literasi di sekolah, yaitu kebiasaan berbicara, membaca, dan menulis, baik di siswa maupun guru/pengelola sekolah. Anak-anak dan guru perlu lebih sering berbicara, membaca, dan menulis. Perpustakaan atau sentra pojok baca di kelas atau halaman taman sekolah, menjadi sarana penting.
Budaya literasi akan menghidupkan sisi imajinatif dan kreatifitas warga sekolah. Menumbuhkan budaya ilmiah di sekolah, yaitu tumbuhnya rasa ingin tahu yang besar, minat mendalami sesuatu, tumbuh sikap demokratis dalam proses belajar-mengajar, yang terpuaskan melalui membaca-menulis. Guru-guru perlu lebih sering membaca dan menulis pikiran-pikirannya. Dengan menulis akan tumbuh kepekaan, kepedulian, rasa sayang, kecintaan, semangat untuk maju, kecerdasan logik, serta akhirnya tujuan hidup yang lebih terarah.
Bagi guru, ketrampilan menulis akan menunjang pengembangan profesionalisme. Bagi siswa, akan lebih mudah menggali kompetensi diri dan mengembangkan peta karir masa depannya. Kecerdasan majemuk siswa pun lebih terakomodasi oleh sekolah. Inilah generasi muda bangsa yang lebih siap menyongsong globalisasi.
Kami meyakini, menghidupkan budaya dan kecerdasan literasi merupakan kebutuhan sekolah-sekolah Indonesia di masa depan. Guru yang cerdas literasi, dan gemar menulis, dia lah yang akan membangun budaya keilmuan di sekolah. Untuk itu, majalah Teachers Guide ingin ikut berkontribusi dalam membangun kebiasaan membaca-menulis ini bagi para Guru melalui workshop literasi-menulis. (Teachers Guide: Pengantar Workshop Literasi untuk Guru)
Prihatin Pendidik Terhadap 1.820 Guru Riau Turun Pangkat
31 Januari 2010 ( RIAU POS)
PEKANBARU (RP) - Keprihatinan dari kalangan pendidik ditampakkan, terkait terungkapnya dugaan pemalsuan karya ilmiah dan tanda tangan instansi terkait dalam proses kenaikan pangkat guru dengan konsekuensi 1.820 guru harus diturunkan pangkat dari IV a ke IV b. Penilaian mulai dari bahwa hukuman adalah sebuah konsekuensi, sampai permintaan hukuman jangan pada tahap penurunan pangkat.
Pengamat Pendidikan Riau, Prof Syamsul Nizar kepada Riau Pos mengatakan kondisi tersebut memang memprihatinkan. Dia menilai permasalahan tersebut dapat diatasi dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan yang intensif kepada para tenaga pendidik yang akan mengikuti proses kenaikan jabatan.
Ditambahkannya, peristiwa tersebut idealnya dapat menjadi pembelajaran positif bagi semua pihak, bahwa dalam mencapai proses kenaikan pangkat harus melewati mekanisme dan aturan yang berlaku. Bagitu juga dengan konsekuensi yang harus dijalani (penurunan pangkat, red), ketika memilih untuk mengambil jalan pintas dalam proses meraih jenjang karir.
‘’Saya melihat, tenaga pengajar tersebut secara kualitas pendidikan bukan tidak bisa membuat karya ilmiah. Hanya saja keterbatasan kemampuan teknologi, faktor umur, dan lokasi tempat berkerja yang jauh dari pusat kota, sehingga mereka tidak mengerti teknis dan mekanismenya. Hal inilah yang melatar belakangi para guru ini mengambil jalan pintas dengan melibatkan calo,’’ paparnya.
Ketua PGRI Riau, Dr Isjoni MSi menilai guru tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Panjangnya birokrasi untuk pengurusan kenaikan pangkat menurutnya celah masuk calo. Selain itu, para guru juga tidak mengetahui berkas yang mereka kirimkan ke pusat. ‘’Kita prihatin dengan kondisi ini. Namun pusat seharusnya memperpendek birokrasi. Tidak ada salahnya penilaian diberikan kembali ke daerah seperti LPMP atau LPTK atau lembaga independen yang dibentuk bersama. Posisi kebingungan guru mengakses pusat inilah saya kira peluang calo masuk dan gurupun terjebak,’’ ujar Dekan FKIP Unri ini.
Sementara itu, Ketua PGRI Pekanbaru, Jakiman SW soal ini malah meminta pemerintah tidak serta merta menurunkan pangkat guru-guru yang diindikasikan melakukan kecurangan dalam hal penulisan karya ilmiah. Hal tersebut diungkapkannya terkait dengan martabat seorang tenaga pengajar yang seharusnya mencerdaskan bangsa.
Bila hal tersebut dilakukan dia kawatir itu akan membuat citra guru menurun. Pasalnya, pemberian sanksi penurunan pangkat ini tidak akan mendidik guru untuk lebih baik lagi, melainkan akan memurukkan nama baik mereka. Terutama di kalangan sekolah dan anak didik.
‘’Saya pikir harusnya pemerintah memberi kesempatan untuk mereka membuktikan mereka mampu. Walau sebenarnya itu salah, tapi tidak ada salahnya jika ultimatum mereka untuk segera memperbaiki penyusunan karya ilmiah tersebut sesuai dengan ketentuannya,’’ jelasnya.
Permasalahan sudah mencuat, Syamsul Nizar berpendapat, solusi yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan dalam penyusunan karya tulis ilmiah. Dalam hal ini instansi terkait, seperti Dinas Pendidikan harus dapat lebih proaktif menyentuh para guru yang berada di daerah pinggiran atau pelosok daerah. Sebab jika tidak ditanggulangi secara maksimal, kondisi ini dapat menjadi inidikasi buruk dalam sejarah perpendidikan di Riau.
Ditanya faktor persyaratan dalam memperoleh jabatan IV b yang dinilai cukup berat, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim ini mengatakan pada dasarnya itu bukanlah menjadi alasan. Sebab jenjang jabatan IV b sudah merupakan jenjang pendidikan yang cukup tinggi, artinya perlu ada kompetensi dalam meraihnya, salah satunya dengan hasil karya ilmiah.
‘’Sebenarnya persyaratan yang harus dilewati para tenaga pengajar tersebut tidaklah berat. Ini hanya masalah kesiapan dan pemahaman. Sebab untuk meraih jabatan IV b malah idealnya, guru sudah harus menuliskan sebuah jurnal atau buku ajar, sebagai wujud prestasi dalam dunia pendidikan,’’ tambahnya.
Menurutnya, jika dikaji secara mendalam, kemungkinan kaum intelektual yang berperan dalam konspirasi ini bisa saja terungkap. Sebab untuk menulis sebuah karya ilmiah membutuhkan pemahaman dan pengalaman yang mendalam. ‘’Kita belum bisa menentukannya, hasil pemeriksaan aparat keamananlah yang dapat memberikan informasi tentang oknum yang berada di belakang ini semua,’’ paparnya.
Sedangkan Jakiman tentang penilaian sulitnya persyaratan, karena syarat kenaikan pangkat memang tidak memiliki standar baku dari pusat. Bahkan menurutnya banyak guru tidak mengerti. Perlu ada upaya sosialisasi dan pelatihan, sebutnya sehingga para guru mengerti dan terbiasa dalam menuliskan karya ilmiah.
‘’Seharusnya yang disalahkan itu bukan gurunya saja, calonya juga harus mendapatkan hukuman. Pasalnya, jika tidak ada mereka kemungkinan untuk terjadi praktik kecurangan tersebut sangat kecil,’’ ujarnya.
Ia juga menyarankan jika penilaian kenaikan pangkat IV a-IV b tidak dilakukan di pusat melainkan di daerah. Dengan hal itu, guru akan mengetahui di mana letak kelemahan dan kekurangan karya ilmiah mereka yang mereka buat.
‘’Di sini kita tidak melihat siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang jelas ini semua hal yang salah dan tidak harus diulang kembali. Guru sebaiknya belajar menulis karya ilmiah karena memang tidak sulit, sementara sistem penilaiannya harus objektif dan sesuai kemampuan guru,’’harapnya.
Di tengah mencuatnya persoalan kualitas guru di Riau, pemerintah pusat dalam hal ini Dinas Pendidikan tengah menggenjot kompetensi kepala sekolah di seluruh Indonesia dengan upaya pemberian sertifikasi. Upaya ini masuk dalam tahapan program 100 hari, Kementerian Pendidikan Nasional. Dari 300 ribu lebih Kepsek yang sudah dilatih, sebanyak 19 ribu sudah dilakukan.
‘’Kepsek menuju proses sertifikasi dan mereka harus melakukan pengembangan secara berkelanjutan. Kalau Kepsek ini canggih, guru yang kurang bagus bisa teratasi. Itu peran penting Kepsek," kata Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalal usai membuka program penguatan kemampuan Kepsek dan pengawas sekolah di Gedung Dikti Jakarta, kemarin (30/1).(rio/eko/fia/jpnn/hpz)
PEKANBARU (RP) - Keprihatinan dari kalangan pendidik ditampakkan, terkait terungkapnya dugaan pemalsuan karya ilmiah dan tanda tangan instansi terkait dalam proses kenaikan pangkat guru dengan konsekuensi 1.820 guru harus diturunkan pangkat dari IV a ke IV b. Penilaian mulai dari bahwa hukuman adalah sebuah konsekuensi, sampai permintaan hukuman jangan pada tahap penurunan pangkat.
Pengamat Pendidikan Riau, Prof Syamsul Nizar kepada Riau Pos mengatakan kondisi tersebut memang memprihatinkan. Dia menilai permasalahan tersebut dapat diatasi dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan yang intensif kepada para tenaga pendidik yang akan mengikuti proses kenaikan jabatan.
Ditambahkannya, peristiwa tersebut idealnya dapat menjadi pembelajaran positif bagi semua pihak, bahwa dalam mencapai proses kenaikan pangkat harus melewati mekanisme dan aturan yang berlaku. Bagitu juga dengan konsekuensi yang harus dijalani (penurunan pangkat, red), ketika memilih untuk mengambil jalan pintas dalam proses meraih jenjang karir.
‘’Saya melihat, tenaga pengajar tersebut secara kualitas pendidikan bukan tidak bisa membuat karya ilmiah. Hanya saja keterbatasan kemampuan teknologi, faktor umur, dan lokasi tempat berkerja yang jauh dari pusat kota, sehingga mereka tidak mengerti teknis dan mekanismenya. Hal inilah yang melatar belakangi para guru ini mengambil jalan pintas dengan melibatkan calo,’’ paparnya.
Ketua PGRI Riau, Dr Isjoni MSi menilai guru tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Panjangnya birokrasi untuk pengurusan kenaikan pangkat menurutnya celah masuk calo. Selain itu, para guru juga tidak mengetahui berkas yang mereka kirimkan ke pusat. ‘’Kita prihatin dengan kondisi ini. Namun pusat seharusnya memperpendek birokrasi. Tidak ada salahnya penilaian diberikan kembali ke daerah seperti LPMP atau LPTK atau lembaga independen yang dibentuk bersama. Posisi kebingungan guru mengakses pusat inilah saya kira peluang calo masuk dan gurupun terjebak,’’ ujar Dekan FKIP Unri ini.
Sementara itu, Ketua PGRI Pekanbaru, Jakiman SW soal ini malah meminta pemerintah tidak serta merta menurunkan pangkat guru-guru yang diindikasikan melakukan kecurangan dalam hal penulisan karya ilmiah. Hal tersebut diungkapkannya terkait dengan martabat seorang tenaga pengajar yang seharusnya mencerdaskan bangsa.
Bila hal tersebut dilakukan dia kawatir itu akan membuat citra guru menurun. Pasalnya, pemberian sanksi penurunan pangkat ini tidak akan mendidik guru untuk lebih baik lagi, melainkan akan memurukkan nama baik mereka. Terutama di kalangan sekolah dan anak didik.
‘’Saya pikir harusnya pemerintah memberi kesempatan untuk mereka membuktikan mereka mampu. Walau sebenarnya itu salah, tapi tidak ada salahnya jika ultimatum mereka untuk segera memperbaiki penyusunan karya ilmiah tersebut sesuai dengan ketentuannya,’’ jelasnya.
Permasalahan sudah mencuat, Syamsul Nizar berpendapat, solusi yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan dalam penyusunan karya tulis ilmiah. Dalam hal ini instansi terkait, seperti Dinas Pendidikan harus dapat lebih proaktif menyentuh para guru yang berada di daerah pinggiran atau pelosok daerah. Sebab jika tidak ditanggulangi secara maksimal, kondisi ini dapat menjadi inidikasi buruk dalam sejarah perpendidikan di Riau.
Ditanya faktor persyaratan dalam memperoleh jabatan IV b yang dinilai cukup berat, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim ini mengatakan pada dasarnya itu bukanlah menjadi alasan. Sebab jenjang jabatan IV b sudah merupakan jenjang pendidikan yang cukup tinggi, artinya perlu ada kompetensi dalam meraihnya, salah satunya dengan hasil karya ilmiah.
‘’Sebenarnya persyaratan yang harus dilewati para tenaga pengajar tersebut tidaklah berat. Ini hanya masalah kesiapan dan pemahaman. Sebab untuk meraih jabatan IV b malah idealnya, guru sudah harus menuliskan sebuah jurnal atau buku ajar, sebagai wujud prestasi dalam dunia pendidikan,’’ tambahnya.
Menurutnya, jika dikaji secara mendalam, kemungkinan kaum intelektual yang berperan dalam konspirasi ini bisa saja terungkap. Sebab untuk menulis sebuah karya ilmiah membutuhkan pemahaman dan pengalaman yang mendalam. ‘’Kita belum bisa menentukannya, hasil pemeriksaan aparat keamananlah yang dapat memberikan informasi tentang oknum yang berada di belakang ini semua,’’ paparnya.
Sedangkan Jakiman tentang penilaian sulitnya persyaratan, karena syarat kenaikan pangkat memang tidak memiliki standar baku dari pusat. Bahkan menurutnya banyak guru tidak mengerti. Perlu ada upaya sosialisasi dan pelatihan, sebutnya sehingga para guru mengerti dan terbiasa dalam menuliskan karya ilmiah.
‘’Seharusnya yang disalahkan itu bukan gurunya saja, calonya juga harus mendapatkan hukuman. Pasalnya, jika tidak ada mereka kemungkinan untuk terjadi praktik kecurangan tersebut sangat kecil,’’ ujarnya.
Ia juga menyarankan jika penilaian kenaikan pangkat IV a-IV b tidak dilakukan di pusat melainkan di daerah. Dengan hal itu, guru akan mengetahui di mana letak kelemahan dan kekurangan karya ilmiah mereka yang mereka buat.
‘’Di sini kita tidak melihat siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang jelas ini semua hal yang salah dan tidak harus diulang kembali. Guru sebaiknya belajar menulis karya ilmiah karena memang tidak sulit, sementara sistem penilaiannya harus objektif dan sesuai kemampuan guru,’’harapnya.
Di tengah mencuatnya persoalan kualitas guru di Riau, pemerintah pusat dalam hal ini Dinas Pendidikan tengah menggenjot kompetensi kepala sekolah di seluruh Indonesia dengan upaya pemberian sertifikasi. Upaya ini masuk dalam tahapan program 100 hari, Kementerian Pendidikan Nasional. Dari 300 ribu lebih Kepsek yang sudah dilatih, sebanyak 19 ribu sudah dilakukan.
‘’Kepsek menuju proses sertifikasi dan mereka harus melakukan pengembangan secara berkelanjutan. Kalau Kepsek ini canggih, guru yang kurang bagus bisa teratasi. Itu peran penting Kepsek," kata Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalal usai membuka program penguatan kemampuan Kepsek dan pengawas sekolah di Gedung Dikti Jakarta, kemarin (30/1).(rio/eko/fia/jpnn/hpz)
Motivasi Guru Menulis, Disdik Riau Luncurkan Jurnal Inspirasi
Rabu, 09 Desember 2009 (Tribun Riau)
PEKANBARU: Untuk memotivasi para Guru rajin menulis agar pengalaman berharganya bisa ditularkan ke guru-guru yang lain Dinas Pendidikan Riau menerbitkan Jurnal Inspirasi Pendidikan. Jurnal ini telah diluncurkan kemaren di Hotel Indrayani, Pekanbaru.
Kepala Dinas Pendidikan Riau, Irwan Effendi mengatakan, selama ini minat guru di Riau membuat tulisan ilmiah cukup tinggi. Namun sayangnya mereka tidak tahu kemana minat itu akan disalurkan, karena belum adanya wadah yang tepat.
"Dengan adanya Jurnal Inspirasi Pendidikan ini diharapkan akan mampu menjadi wadah untuk menampung minat tulis dari para guru tersebut," ungkap dia. Para guru bisa menyumbangkan tulisan-tulisan bermanfaatnya ke jurnal ini.
Jurnal ini, menurut Irwan lagi, bisa menjadi kredit poin bagi para guru untuk pertimbangan kenaikan jabatannya. Jadi setiap guru yang menulis disini akan diberikan kredit poin untuk keperluan kenaikan pangkat atau jabatan.
Namun sesungguhnya, bukan kredit oin yang menjadi tujuan utama, melainkan adanya saling berbagai pengalaman antar guru. "Kalau ada pengalaman yang bagus, bisa ditulis dan dimuat disini, agar ditularkan ke guru-guru yang lain," ujarnya.(ries)
PEKANBARU: Untuk memotivasi para Guru rajin menulis agar pengalaman berharganya bisa ditularkan ke guru-guru yang lain Dinas Pendidikan Riau menerbitkan Jurnal Inspirasi Pendidikan. Jurnal ini telah diluncurkan kemaren di Hotel Indrayani, Pekanbaru.
Kepala Dinas Pendidikan Riau, Irwan Effendi mengatakan, selama ini minat guru di Riau membuat tulisan ilmiah cukup tinggi. Namun sayangnya mereka tidak tahu kemana minat itu akan disalurkan, karena belum adanya wadah yang tepat.
"Dengan adanya Jurnal Inspirasi Pendidikan ini diharapkan akan mampu menjadi wadah untuk menampung minat tulis dari para guru tersebut," ungkap dia. Para guru bisa menyumbangkan tulisan-tulisan bermanfaatnya ke jurnal ini.
Jurnal ini, menurut Irwan lagi, bisa menjadi kredit poin bagi para guru untuk pertimbangan kenaikan jabatannya. Jadi setiap guru yang menulis disini akan diberikan kredit poin untuk keperluan kenaikan pangkat atau jabatan.
Namun sesungguhnya, bukan kredit oin yang menjadi tujuan utama, melainkan adanya saling berbagai pengalaman antar guru. "Kalau ada pengalaman yang bagus, bisa ditulis dan dimuat disini, agar ditularkan ke guru-guru yang lain," ujarnya.(ries)
Langganan:
Postingan (Atom)